Jenis naskah*: Cerpen
Nama Asli*: nuryadi budi setiawan
Nama Samaran: nuryadi
Email*:
nuryadisetiawan98@gmail.com
Nomor Kontak Hp/ Telp.*: 089647462230
Silakan tulis naskah Anda di sini*: Hidupku Bergantung Pada Tiga Roda
Aroma pagi sudah mulai menyentuh penciumanku, dengan bergegas aku memaksa
tubuhku dan membawanya sebuah sumur yang sudah tua. Inilah rutinitasku
sehari-hari setelah bangun tidur, menimba air untuk keperluan hari ini. Aku
tinggal disebuah rumah yang tak pantas disebut rumah, namun aku terpaksa
menempatinya karena tidak ada tempat lain untuk berlindung dari kekejaman
dunia. Aku tak sendiri disini, aku hidup bersama ibuku dan kedua adikku yang
masih kecil. Ibuku sakit keras kurang lebih sudah dua tahun, entah apa
penyakitnya ? aku tak mampu membawanya untuk berobat di Puskesmas karena
kondisi ekononi keluargaku yang kurang memadahi.
Pagi ini setelah bak air terisi penuh, aku segera menuju ke dapur untuk
merebus singkong yang hanya bisa ku bumbui dengan garam ala kadarnya.
Beginilah nasibku. Tidak adanya pendidikan yang layak membuat keluargaku
sangat menderita. Aku berhenti sekolah ketika aku masih duduk di bangku
kelas 4 SD karena saat itu ayahku pergi meninggalkan tanggung jawabnya
sebagai pencari nafkah di keluargaku. Akhirnya ibuku yang menggangtikan
ayahku untuk bekerja membanting tulang untuk menghidupi semua anggota
keluargaku. Akan tetapi, karena aku merasa kasihan kepada ibuku yang
tenaganya semakin lama semakin melemah karena penyakitnya yang semakin
parah, aku memutuskan untuk membantu ibuku menghidupi keluargaku.
Setiap hari beribu tetes keringat membasahi tubuhku, sudah biasa memang
karena aku sudah merasakan semua kepahitan hidup ketika usiaku masih 10
tahun, dan sekarang usiaku sudah 16 tahun, jadi bila dihitung aku sudah
merasakan kepahitan dan kekejaman hidup kurasakan semenjak enam tahun yang
lalu. Lelah memang lelah, namun apa yang bisa aku perbuat, jika aku tak
begini mungkin keluargaku sudah mati kelaparan, dan keluargaku lebih banyak
dan lebih menderita karena terlilit hutang yang terhitung banyak.
Setahun yang lalu ada seorang tetangga baik hati yang memberiku sumbangan
sukarela, yang sangat membantuku. Orang itu sangat baik hati memberiku
sebuah benda yang bisa kugunakan untuk mengais sedikit rejeki untuk
mengganjal perut keluargaku. Benda yang mempunyai tiga roda itu begitu
berharga, dari situlah keluargaku bisa makan dan kedua adikku Nana dan Nani
bisa bersekolah dan sekarang sudah kelas 2 SD, aku berharap mereka tidak
sepertiku bodoh dan tak berpendidikan, ya begitulah gambaran kehidupanku.
Aku dipercaya untuk menjadi tulang punggung keluargaku, menggantikan ayahku
yang meninggalkanku semenjak enam tahun yang lalu.
"Hesti !!" suara ibuku yang membuyarkan lamunanku disela-sela merebus
singkong.
"iya bu" aku bergegas dan beranjak menuju ke ranjang ibuku.
"nak tolong ambilkan minum nak, ibu haus" suaranya yang payau karena
mungkin tenggorokannya sudah menggersang.
"iya bu" kataku dan meninggalkan ibuku sebentar untuk membuat teh hangat
dan membawa semua singkong yang ku rebus tadi, untuk sarapan ibu dan
adik-adikku.
"ini buk minumnya, setelah ini ibu makan ya, dari kemarin ibu belum
makan" kataku sedikit membujuk ibuku untuk makan.
"tapi nak, kenapa singkongnya hanya tiga potong, nanti kamu gimana nak
?" kata ibu melihat piring yang kuletakkan di meja sebelah ranjang ibu.
"aku puasa buk, ibuk nggak usah khawatir, yang penting sekarang ibu makan
ya" kataku dan memberikan singkong yang masih hangat itu untuk ibu.
Sebenarnya aku sangat lapar, tapi tak apalah aku menahan rasa laparku yang
menggelora demi kesembuhan ibuku, tak pantas aku meminta jatah makanku saat
persediaan makananku habis, lebih baik aku yang mengalah, selama ini ibu
sudah terlalu lelah untuk menyangga beban hidup sendirian, rasa lapar ini
tak sebanding dengan apa yang dirasakan ibuku dulu. Pagi ini setelah selesai
mengerjakan pekerjaan rumah, aku segera mandi dan memakai seragam kerjaku,
kaos kusut panjang, celana panjang hitam, jilbab yang selalu aku gunakan,
handuk kecil, dan topi untuk melindungiku dari sengatan sang mentari.
Inilah pekerjaanku menjadi seorang tukang becak, mungkin sebagian orang
heran seharusnya perempuan seumuranku masih bebas bermain tetapi aku, aku
rela membuang waktu bermainku demi kehidupan keluargaku. Jika ditanya
"mengapa ?" pasti aku akan menjawab "aku lebih sayang keluargaku
daripada waktu bermainku"
Mungkin terkadang aku memang iri dengan teman-temanku yang selalu bermain,
ceria, dan bisa bersekolah di sekolah yang mereka inginkan. Sedangkan aku,
aku hanya bisa menggigit jari melihat mereka. Namun, tak apalah mungkin
Tuhan memang menakdirkanku untuk menjadi seperti ini.
Peluhku mulai mengucur deras bab air terjun yang berasal dari kulitku,
sinar matahari semakin menyengat, walaupun ini masih terbilang pagi tapi
suasana Jakarta memang biasanya seperti ini, pohon-pohon penyejuk sekaligus
pelindung sudah lenyap karena ulah tangan jahil manusia jaman modern.
Pohon-pohon yang tadinya sangat rindang dan selalu mengihiasi kota, sekarang
berganti menjadi gedung-gedung megah namun seperti penjajah bagi orang yang
miskin sepertiku. Tak pantas memang aku berada di Jakarta, kota yang padat
penduduk, minim pekerjaan dan yahhh begitulah.
Saat aku masih umur empat tahun, ibu dan ayahku sepakat untuk merantau ke
Jakarta, karena ingin mengadu nasib di ibu kota. Namun sayang hanya nasib
kurang beruntung yang menimpa kami, ayah dan ibuku tak punya pekerjaan,
semua harta yang kami bawa dari kampung hanya cukup untuk makan sehari-hari
saja. Akhirnya ayahku rela bekerja serabutan untuk menghidupi keluargaku.
Nasib yang bahagia namun bisa berarti sial untuk keluargaku menimpa lagi,
ibuku hamil dan melahirkan anak kembar yaitu adikku yang sekarang, semakin
beratlah beban ayahku, sampai akhirnya ibuku memutuskan untuk menitipkan
smentara adikku di panti asuhan di kampung sebelah karena ketiadaan biaya
untuk menghidupi keluargaku. Setelah kedua adikku dititipkan di pantu
asuhan, ibuku juga membanting tulang membantu ayahku mencari uang untuk
menabung kala suatu saat nanti adikku kembali ke rumah sederhana keluargaku
ini.
Beberapa tahun kemuadian, entah setan apa yang merasuki tubuh ayahku sampai
akhirnya ia mainggalkan aku, ibu, dan adikku menghidupi keluarga sendiri.
Sedih memang kehilangan seorang ayah sepeti ayahku, sampai sekarang ia belum
juga pulang, bahkan sepucuk suratpun tak dikirimnya untuk kami.
"becak"
"becak"
"becak mbak" teriak seorang ibu-ibu yang ada di belakangku.
Aku menghentikan seketika becakku dan menghampiri ibu-ibu yang tadi
memanggilku. "mari bu saya antar" kataku sopan.
"iya nak, tolong antarkan saya ke gang mawar ya, nanti saya bakalan
ngasih kamu uang lebih" kata ibu itu.
"baiklah, mari saya antar" kataku menyetujui permintaan ibu-ibu itu.
Aku tau gang mawar sangatlah jauh, namun, tak apalah demi segelincir uang
tambahan setidaknya bisa mengurangi bebanku untuk membeli sebungkus nasi
hari ini untuk keluargaku.
Ku kayuh, dan ku kayuh dengan kuat sedel becakku, perlahan namun pasti
becak yang ku kayuh berjalan menyusuri sepanjang jalan yang panasnya
menyengat semua tubuhku. Aroma keringat seorang tukang becak meyeruak dan
menusuk rongga hidungku. Ini semua ku lakukan ikhlas untuk menggantikan
ayahku yang pergi tanpa sebab beberapa tahun yang lalu.
Gang mawar memang jauh tapi kata ibu ini, akan memberi uang lebih untukku,
itu berarti mungkin nanti aku bisa membeli nasi bungkus untuk pengganjal
perut keluargaku dirumah. Sepanjang perjalanan aku melihat pemandangan
gedung-gedung tinggi milik para konglomerat Jakarta. Andaikan diantara
pemilik gedung-gedung itu adalah aku, pasti kehidupanku tak akan seperti
ini, aku sudah berada di rumah yang mewah.
"nak sebelum ke gang mawar, nanti berhenti sebentar di depan gerbang SMA
Angkasa 2 ya !!" perintah ibu-ibu itu.
"baik bu !"
Tak lama aku berhenti disebuah sekolah yang terbilang favorit di Jakarta,
jika keluargaku mampu mungkin aku sudah sekolah disini, dan menemukan banyak
teman di sekolah ini. Hari-hariku pasti penuh dengan canda tawa bersama
teman-temanku. Bahagia mungkin rasanya bisa bersekolah disini, beruntung
sekali mereka yang bisa berada disini, menapakkan kaki di lingkungan sekolah
dan mempunyai pendidikan yang tinggi. Tidak sepertiku yang hanya mengenyah
pendidikan sampai kelas empat SD.
Tak terasa air mataku menetes dipipiku meratapi nasib seorang remaja penarik
becak. Segera aku menghapus air mata ini setelah melihat ibu-ibu tadi sudah
terlihat dari kejauhan.
"ayo nak" kata ibu itu setelah naik ke becakku.
"iya bu"
Kukayuh kembali becakku menuju ke gang mawar yang hanya tinggal lima ratus
kilometer lagi dari SMA Angkasa 2. Tak perlu waktu lama aku sudah berada di
sebuah rumah mewah yang berada tepat di depan masjid gang mawar. Aku sedikit
bingung kenapa ibu ini mau dengan jasa becak.
"ayo nak masuk dulu, pasti kamu capek setelah mengantarkan saya dari
pasar ke rumah saya"
"tapi bu !"
"sudah nak tidak apa-apa anggap saja rumah sendiri"
"terima kasih bu"
Ibu ini dengan baik hati menerima seorang tamu yang berpenampilan tak layak
sepertiku. Sepertinya pikiranku tentang tidak ada orang baik lagi di Jakarta
salah besar, ternyata masih ada orang baik dan masih bisa menerima orang
sepertiku dirumahnya walaupun aku tahu ini sangat langka untuk kujumpai.
Ibu-ibu ini sangat ramah kepadaku ia sedang sendiri dirumah karena pegawai
kantor sekaligus penjaga rumah ini ketika majikannya pergi, sedang berada di
masjid untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Tak lama kemudian pegawai kantor ibu ini sudah pulang, aku segera berdiri
untuk menyambut pegawai kantor ibu ini, akan tetapi aku seperti mengenal
orang ini, persis dengan orang yang meninggalkan keluargaku dan meninggalkan
tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluargaku.
"Hesti" panggil orang ini padaku. Namun seketika air mataku terjatuh
meluapkan amarah, kecewa, rindu, dan bahagia yang menjadi satu dalam hatiku.
"a..ayah" jawabku menahan isakku. Setelah aku menjawab perkataannya,
ayah segera memelukku erat, melepaskan rasa rindu dan rasa bersalahnya
disini.
"kenapa ayah pergi ?" kataku dalam tangis.
"maafkan ayah nak, ayah tidak bermaksud untuk meninggalkan kalian, ayah
hanya ingin mencari pekerjaan yang layak, dan ayah bertemu dengan ibu Dewi
ini, dan ayah bekerja dikantor bu Dewi, dan sekarang lihatlah, rumah yang
disebelah rumah bu Dewi adalah rumah ayah nak"
"tapi yah, setelah ayah meninggalkan ibu, ibu sakit-sakitan yah, aku
tidak punya uang untuk membawa ibu kerumah sakit." Kataku dan melepaskan
pelukanku bersama ayahku.
"sekarang ibumu dimana nak, antarkan ayah bertemu ibumu dan ayah akan
membawanya ke rumah sakit sekarang, ayo nak !" kata ayahku khawatir.
Ayahku segera mengambil mobilnya untuk menjemput ibu, dan aku yang
mengarahkan ayah dimana bisa menemui ibu. Tidak seperti becak rasanya jika
menggunakan mobil ini, hanya dengan waktu duapuluh menit perjalanan yang
kutempuh menuju ke rumah dimana aku, ibu, dan kedua adikku tinggal.
Sesampainya dirumah ayah berlari menghampiri ibuku dan membawanya masuk ke
mobil, sedangkan aku merapikan baju-baju ibuku dan memasukkannya kedalam tas
butut yang dulu kugunakan bersama keluargaku merantau ke Jakarta.
Tak perlu susah mencari rumah sakit di Jakarta, hanya dengan waktu tempuh
sepuluh menit kami sudah tiba dirumah sakit.
Setelah itu, ibuku segera dibawa kedalam ruangan sedangkan kami menunggu
diluar. Dengan cemas ayahku menunggu ibuku di luar ruangan. Saat dokter
keluar dan memberitahukan bahwa ibuku tidak sakit parah, ayahku begitu
bahagia mendengarnya. Tetes air mata kembali membasahi pipiku, namun bukan
air mata kesedhihan, akan tetapi ini adalah air mata kebahagiaan, akhirnya
aku bisa bertemu kembali dengan ayahku, dan hidup kamipun berbeda dengan
sebelumnya. Setelah beberapa bulan kemudian aku bisa kembali merasakan hiruk
pikuk dunia pendidikan yang sempat terhenti ketika aku dikelas empat SD. Dan
kini kusadari bahwa hidupku tak seperti yang dulu "bergantung pada tiga
roda."
Visitor IP: 111.68.26.218
Powered by EmailMeForm
http://www.emailmeform.com/